Desa Kesugihan Kidul di Cilacap mungkin tampak seperti pemukiman pedesaan yang tenang pada umumnya. Namun, di balik rimbun pepohonan dan kesahajaan warganya, tersimpan sebuah denyut inovasi yang baru saja meledak melalui Program Pengembangan Pemberdayaan Desa (P3D) Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali (UNUGHA).
Bagaimana mungkin sebuah inisiatif yang lahir dari pinggiran kota, jauh dari hiruk-pikuk metropolitan, mampu memiliki resonansi kuat hingga ke seluruh penjuru Indonesia? Penutupan program P3D pada November 2021 lalu menjadi jawaban telak bahwa jarak geografis bukan lagi penghalang bagi dampak yang masif.
Filosofi di Balik “For-Gundul”: Mengubah Nama Nyentrik Menjadi Gerakan Organik
Salah satu daya tarik paling unik dari program ini adalah lahirnya “For-Gundul”. Nama yang terdengar seperti sebuah plesetan jenaka ini sebenarnya merupakan akronim dari Forum Guru Kesugihan Kidul dan sekitarnya.
Bagi para pendidik di sana, nama nyentrik ini bukan sekadar identitas, melainkan perekat emosional yang menyatukan visi mereka. Dosen pembimbing P3D, Bapak Muhammad Hanif, M.Pd.B.I., menekankan pentingnya karakter unik ini dalam menjaga keberlanjutan sebuah komunitas.
“Sehingga terciptalah forum guru Kesugihan Kidul yang kita singkat For-Gundul. Itu sebuah tingkatan yang nyentrik, unik, dan semoga bertahan. Harapan dari kami sendiri, semoga ini tidak berhenti sampai sini.”
Melalui For-Gundul, silaturahmi ilmiah tidak lagi terasa kaku. Ia menjadi ruang bagi para guru untuk saling menguatkan, memastikan bahwa ilmu yang didapat selama program tetap mengalir dalam ekosistem lokal yang mandiri.
Dari Gang Desa Menuju Sabang-Merauke: Ketika Jarak Bukan Lagi Penghalang
Program P3D UNUGHA berhasil membuktikan bahwa teknologi adalah jembatan bagi inklusivitas pendidikan. Apa yang awalnya dimulai sebagai pendampingan di satu desa, dalam dua bulan saja bertransformasi menjadi webinar series nasional dengan jangkauan luar biasa.
Data menunjukkan partisipasi lebih dari 600 peserta yang terbagi dalam enam kelompok nasional, membentang dari Sabang hingga Merauke. Namun, transformasi digital ini bukan tanpa dinamika manusiawi.
Bapak Hanif menceritakan dengan nada humor bagaimana melatih guru secara virtual sering kali menjadi “latihan sabar”. Alih-alih hanya berfokus pada materi, para instruktur harus dengan telaten menghadapi ribuan pertanyaan tentang sertifikat di tengah proses pelatihan. Ini adalah potret nyata di mana literasi digital bertemu dengan dedikasi dan kesabaran seorang pendidik.
Melampaui Status Kota Santri: Membangun Episentrum Tutorial Digital
Selama ini, Cilacap dan Kesugihan telah lama mapan dengan reputasi sebagai “Kota Santri” berkat kehadiran kiai dan pesantren-pesantren besar. Program P3D ini hadir bukan untuk menggantikan identitas tersebut, melainkan untuk memperkayanya.
Visi besar yang diusung adalah menyandingkan tradisi santri yang kental dengan modernitas tutorial pendidikan. Tujuannya agar Cilacap tidak hanya dikenal karena kedalaman ilmu agamanya, tetapi juga karena guru-guru hebat yang fasih dengan teknologi. Prinsip utamanya adalah bergerak dalam semangat Guru Hebat Bareng-Bareng—sebuah komitmen kolektif untuk maju tanpa ada rekan yang tertinggal di belakang.
Mengubah yang Biasa Menjadi Luar Biasa: Kekuatan Sapu Lidi dalam Inovasi
Dalam sebuah gerakan perubahan, persatuan adalah kunci utama. Bapak Muhammad Hanif menggunakan metafora “Lidi” yang sangat membumi: sebatang lidi tidak akan terasa kekuatannya, namun jika disatukan, ia mampu membersihkan dan menggerakkan perubahan besar.
Semangat ini diamini oleh Bapak Adiyanto dari Kantor Kementerian Agama Cilacap, yang melihat bagaimana program ini berhasil mengemas hal-hal biasa menjadi pencapaian luar biasa. Hasil “gemblengan” P3D ini telah melahirkan sosok-sosok inspiratif seperti Ibu Roro Safria Haniah yang menjadi penulis tingkat nasional, serta Ibu Tasbiha yang meraih Juara 1 Guru Berprestasi tingkat kabupaten.
Keberhasilan mereka adalah bukti bahwa dengan kemauan untuk bergerak (menggeliat), guru-guru dari desa mampu bersinar di panggung yang lebih luas.
Pendidikan sebagai “Jihad Fisabilillah”: Pengabdian Melampaui Honorarium
Di balik layar teknis dan digitalisasi, terdapat fondasi spiritual yang menjaga api semangat para guru tetap menyala. Rektor UNUGHA, Kyai Haji Nasrulloh, memberikan refleksi mendalam bahwa mengajar adalah sebuah kewajiban agama yang luhur.
Beliau mengingatkan bahwa setiap peluh guru dalam mencerdaskan anak bangsa adalah bentuk pengabdian yang nilainya melampaui sekadar honorarium. Mengutip nilai spiritual dalam tradisi Islam, beliau menekankan:
“Barangsiapa keluar dari rumah untuk tujuan menuntut ilmu, mengajar, sekolah, belajar, itu fahuwa fi Sabilillah; sedang jihad di jalan Allah.”
Pandangan ini menempatkan guru sebagai pejuang di garis depan. Bahkan, dedikasi dalam Tholabul Ilmi ini dipandang setara dengan jihad yang jika seseorang wafat dalam tugasnya, ia dipandang meraih kemuliaan syahid.
Kesimpulan: Warisan yang Bergerak
Penutupan program P3D bukanlah garis akhir, melainkan sebuah pelepasan bagi para guru penggerak. Kyai Haji Nasrulloh memberikan pesan penutup yang sangat puitis namun penuh peringatan: saat ini para guru baru saja selesai berlatih di “kolam renang” yang terjaga oleh para pembimbing.
Kini, saatnya mereka “berenang di lautan lepas”. Di sana, tantangannya jauh lebih kompleks—ada badai, batu karang, bahkan ancaman yang nyata. Namun, dengan bekal kemandirian dan kebebasan berekspresi yang telah diasah, para guru penggerak ini diyakini mampu menakhodai perubahan di sekolah masing-masing.
P3D UNUGHA telah meletakkan fondasi bahwa inovasi bisa dimulai dari mana saja, selama ada keberanian untuk berkolaborasi. Keberhasilan desa di Cilacap ini menyisakan satu pertanyaan reflektif bagi kita semua:
Jika sebuah komunitas di pelosok Cilacap mampu menggerakkan ribuan guru dari seluruh Indonesia, inovasi apa yang sebenarnya sedang Anda tunda di lingkungan Anda sendiri?







